BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, May 3, 2009

Sang Pengembara..Ibn Battuta


Pencapaian Ibnu Battuta yang luar biasa itu, konon dirampas dan
disembunyikan Kerajaan Prancis saat menjajah benua Afrika.
”Aku tinggalkan Tangier, kampung halamanku, pada Kamis 2 Rajab 725 H/ 14
Juni 1325 M. Saat itu usiaku baru 21 tahun empat bulan. Tujuanku adalah
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci di Makkah dan berziarah ke makam
Rasulullah SAW di Madinah,” kisah Ibnu Battuta - pengembara dan penjelajah
Muslim terhebat di dunia — membuka pengalaman perjalanan panjangnya dalam
buku catatannya, Rihla.
Dengan penuh kesedihan, ia meninggalkan orangtua serta sahabat sahabatnya di
Tangier. Tekadnya sudah bulat untuk menunaikan rukun iman kelima.
Perjalananya menuju ke Baitullah telah membawanya bertualang dan menjelajahi
dunia. Seorang diri, dia mengarungi samudera dan menjelajah daratan demi
sebuah tujuan mulia.
”Kehebatan Ibnu Battuta hanya dapat dibandingkan dengan pelancong terkemuka
Eropa, Marcopolo (1254 M -1324 M),” ujar Sejarawan Brockelmann mengagumi
ketangguhan sang pengembara Muslim itu. Selama hampir 30 tahun, dia telah
mengunjungi tiga benua mulai dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan,
Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia engah, Asia Tenggara, dan Cina.
Perjalanan panjang dan pengembaraannya mengelilingi dunia itu mencapai 73
ribu mil atau sejauh 117 ribu kilometer. Tak heran, bila kehebatannya mampu
melampaui sejumlah penjelajah Eropa yang diagung-agungkan Barat seperti
Christopher Columbus, Vasco de Gama, dan Magellan yang mulai berlayar 125
setelah Ibnu Battuta.
Sejarawan Barat, George Sarton, mencatat jarak perjalanan yang ditempuh Ibnu
Battuta melebihi capaian Marco Polo. Tak heran, bila Sarton geleng-geleng
kepala dan mengagumi ketangguhan seorang Ibnu Battuta yang mampu mengarungi
lauatan dan menjelajahi daratan sepanjang 73 ribu mil itu. Sebuah pencapaian
yang tak ada duanya di masa itu.
Lalu siapakah sebenarnya pengembara tangguh bernama Ibnu Battuta itu? Pria
kelahiran Tangier 17 Rajab 703 H/ 25 Februari 1304 itu bernama lengkap
Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim At-Tanji, bergelar Syamsuddin
bin Battutah. Sejak kecil, Ibnu Battuta dibesarkan dalam keluarga yang taat
menjaga tradisi Islam. Ibnu Battuta begitu tertarik untuk mendalami
ilmu-ilmu fikih dan sastra dan syair Arab.
Kelak, ilmu yang dipelajarinya semasa kecil hingga dewasa itu banyak
membantunya dalam melalui perjalanan panjangnya. Ketika Ibnu Battuta tumbuh
menjadi seorang pemuda, dunia Islam terbagi-bagi atas kerajaan-kerajaan dan
dinasti. Ia sempat mengalami kejayaan Bani Marrin yang berkuasa di Maroko
pada abad ke-13 dan 14 M.
Latar belakang Ibnu Battuta begitu jauh berbeda bila dibandingkan Marco Polo
yang seorang pedagang dan Columbus yang benar-benar seorang petualang
sejati. Meski Ibnu Battuta adalah seorang teologis, sastrawan puis,i dan
cendekiawan, serta humanis, namun ketangguhannya mampu mengalahkan keduanya.
Meski hatinya berat untuk meninggalkan orang-orang yang dicintainya, Ibnu
Battuta tetap meninggalkan kampung halamannya untuk menunaikan ibadah haji
ke Makkah yang berjarak 3.000 mil ke arah Timur. Dari Tangier, Afrika Utara
dia menuju Iskandariah. Lalu kembali bergerak ke Dimyath dan Kaherah.
Setelah itu, dia menginjakkan kakinya di Palestina dan selanjutnya menuju
Damaskus. Ia lalu berjalan kaki ke Ladzikiyah hingga sampai di Allepo. Pintu
menuju Makkah terbuka dihadapannya setelah dia melihat satu kafilah sedang
bergerak untuk menunaikan ibadat haji ke Tanah Suci. Ia pun bergabung dengan
rombongan itu. Beliau menetap di Makkah selama dua tahun.
Setelah cita-citanya tercapai, Ibnu Battuta, ternyata tak langsung pulang ke
Tangier, Maroko. Ia lebih memilih untuk meneruskan pengembaraannya ke Yaman
melalui jalan laut dan melawat ke Aden, Mombosa, Timur Afrika dan menuju ke
Kulwa. Ia kembali ke Oman dan kembali lagi ke Makkah untuk menunaikan Haji
pada tahun 1332 M, melaui Hormuz, Siraf, Bahrin dan Yamama.
Itulah putaran pertama perjalanan yang tempuh Ibnu Battuta. Pengembaraan
putara kedua, dilalu Ibnu Battuta dengan menjelajahi Syam dan Laut Hitam. I
lalumeneruskan pengembaraannya ke Bulgaria, Roma, Rusia, Turki serta
pelabuhan terpenting di Laut Hitam yaitu Odesia, kemudian menyusuri
sepanjang Sungai Danube.
Ia lalu berlayar menyeberangi Laut Hitam ke Semenanjung Crimea dan
mengunjungi Rusia Selatan dan seterusnya ke India. Di India, ia pernah
diangkat menjadi kadi. Dia lalu bergerak lagi ke Sri Langka, Indonesia, dan
Canton. Kemudian Ibnu Battuta mengembara pula ke Sumatera, Indonesia dan
melanjutkan perjalanan melalui laut Amman dan akhirnya eneruskan perjalanan
darat ke Iran, Irak, Palestina, dan Mesir.
Beliau lalu kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah hajinya yang ke tujuh
pada bulan November 1348 M. Perjalanan putaran ketiga kembali dimulai pada
753 H. Ia terdampar di Mali di tengah Afrika Barat dan akhirnya kembali ke
Fez, Maroko pada 1355 M.
Ia mengakhiri cerita perjalannya dengan sebuah kalimat, ”Akhirnya aku sampai
juga di kota Fez.” Di situ dia menuliskan hasil pengembaraannya. Salah
seorang penulis bernama Mohad Ibnu Juza menuliskan kisah perjalanannya
dengan gaya bahasa yang renyah. Dalam waktu tiga bulan, buku berjudul
Persembahan Seorang pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yang
Mengagumka, diselesaikannya pada 9 Desember 1355 M.
Secara detail, setiap kali mengunjungi sebuah negeri atau negara, Ibnu
Battuta mencatat mengenai penduduk, pemerintah, dan ulama. Ia juga
mengisahkan kedukaan yang pernah dialaminya seperti ketika berhadapa dengan
penjahat, hampir pingsan bersama kapal yang karam dan nyaris dihukum penggal
oleh pemerintah yang zalim. Ia meninggal dunia di Maroko pada pada tahun
1377 M. Kisah pencapaian Ibnu Battuta yang luar biasa itu, konon dirampas
dan disembunyikan Kerajaan Prancis saat menjajah benua Afrika. Buktinya,
Barat baru mengetahui kehebatannya setelah tiga abad meninggalnya sang
pengembara.
Dari Tangier ke Samudera Pasai
Petualangan dan perjalanan panjang yang ditempuh Ibnu Battuta sempat
membuatnya terdampar di Samudera Pasai - kerajaan Islam pertama di Nusantara
pada abad ke-13 M. Ia menginjakkan kakinya di Aceh pada tahun 1345. Sang
pengembara itu singgah di bumi Serambi Makkah selama 15 hari.
Dalam catatan perjalanannya, Ibnu Battuta melukiskan Samudera Pasai dengan
begitu indah. ”Negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan
indah,” tutur sang pengembara berdecak kagum. Kedatangan penjelajah kondang
asal Maroko itu mendapat sambutan hangat dari para ulama dan pejabat
Samudera Pasai.
Ia disambut oleh pemimpin Daulasah, Qadi Syarif Amir Sayyir al-Syirazi,
Tajudin al-Ashbahani dan ahli fiqih kesultanan. Menurut Ibnu Battuta, kala
itu Samudera Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia
Tenggara. Penjelajah termasyhur itu juga mengagumi Sultan Mahmud Malik
Al-Zahir penguasa Samudera Pasai.
”Sultan Mahmud Malik Al-Zahir adalah seorang pemimpin yang sangat
mengedepankan hukum Islam. Pribadinya sangat rendah hati. Ia berangkat ke
masjid untuk shalat Jumat dengan berjalan kaki. Selesai shalat, sultan dan
rombongan biasa berkeliling kota untuk melihat keadaan rakyatnya,” kisah
Ibnu Battuta.
Menurut Ibnu Battuta, penguasa Samudera Pasai itu memiliki ghirah belajar
yang tinggi untuk menuntut ilmu-ilmu Islam kepada ulama. Dia juga mencatat,
pusat studi Islam yang dibangun dii lingkungan kerajaan menjadi tempat
diskusi antara ulama dan elit kerajaan. Selama berpetualang mengelilingi
dunia dan menjejakkan kakinya di 44 negara, dalam kitab yang berjudul Tuhfat
al-Nazhar, Ibnu Battuta menuturkan telah bertemu dengan tujuh raja yang
memiliki kelebihan yang luar biasa.
Ketujuh raja yang dikagumi Ibnu Battuta itu antara lain; raja Iraq yang
dinilainya berbudi bahasa; raja Hindustani yang disebutnya sangat ramah;
raja Yaman yang dianggapnya berakhlak mulia; raja Turki dikaguminya karena
gagah perkasa; Raja Romawi yang sangat pemaaf; Raja Melayu Malik Al-Zahir
yang dinilainya berilmu pengetahuan luas dan mendalam, serta raja Turkistan.
Setelah berkelana dan mengembara di Samudera Pasai selama dua pekan, Ibnu
Battuta akhirnya melanjutkan perjalannnya menuju Negeri Tirai Bambu Cina.
Catatan perjalanan Ibnu Battuta itu menggambarkan pada abad pertengahan,
peradaban telah tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara.
Abadi di Kawah Bulan
Nama besar dan kehebatan Ibnu Battuta dalam menjelajahi dunia di abad
pertengahan hingga kini tetap dikenang. Bukan hanya umat Islam saja yang
mengakui kehebatannya, Barat pun mengagumi sosok Ibnu Battuta. Tak heran,
karya-karyanya disimpan Barat.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya, International Astronomy Union
(IAU) mengabadikan Ibnu Battuta menjadi nama salah satu kawah bulan. Bagi
orang Astronomi, Ibnu Battuta bukan hanya seorang pengembara dan penjelajah
paling termasyhur, namun juga sebuah kawah kecil di bulan yang berada di
Mare Fecunditas.
Kawah Ibnu Battuta terletak di Baratdaya kawah Lindenbergh dan Timurlaut
kawah bulan terkenal Goclenius. Di sekitar kawah Ibnu Battuta tersebar
beberapa formasi kawah hantu. Kawah Ibnu Battuta berbentuk bundar dan
simetris. Dasar bagian dalam kawah Ibnu Battuta terbilang luas. Diameter
kawah itu mencapai 11 kilometer. Dasar kawah bagian dalamnya terbilang
gelap, segelap luarnya. Kawah Ibnu Battuta awalnya bernama Goclenius A.
Namun, IAU kemudian memberinya nama Ibnu Battuta.
Selain dijadikan nama kawah di bulan, Ibnu Battuta juga diabadikan dan
dikenang masyarakat Dubai lewat sebuah mal atau pusat perbelanjaan bernama
Ibnu Battuta Mall. Di sepanjang koridor mal itu dipajangkan hasil penelitian
dan penemuan Ibnu Battuta. Meski petualangan dan pengembaraannya telah
berlalu enam abad silam, namun kebesaran dan kehebatannya hingga kini tetap
dikenang.

0 comments: